Penanggulangan Kemiskinan, Pertanian Ujung Tombak

Kemiskinan telah mengalami perluasan makna, seiring dengan semakin kompleksnya faktor penyebab, indikator maupun permasalahan lain yang melingkupinya. Kemiskinan tidak lagi hanya dianggap sebagai dimensi ekonomi melainkan telah meluas hingga kedimensi sosial, kesehatan, pendidikan dan politik. Menurut Badan Pusat Statistik, kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi standar minimum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan pengertian kemiskinan menurut World Bank(2000), kemiskinan adalah kehilangan kesejahteraan (deprivation of well being) inti permasalahan pada kemiskinan adalah batasan-batasan tentang kesejahteraan itu sendiri. Dalam teori ekonomi semakin banyak barang dikonsumsi berarti semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan seseorang, tingkat kesejahteraan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengakses sumberdaya yang tersedia (barang yang dikonsumsi).

Kebutuhan pangan seharusnya tidak perlu diperjuangkan dengan sedemikian gigihnya jika mampu mengelolah dan mengorganisasikan pertanian dengan tepat dan sesuai serta seimbang. Dikatakan tepat, apabila masyarakat dapat mengoptimalkan lahan yang begitu luas dan subur serta kaya akan sumber daya alam yang didukung oleh sebuah sistem pemerintahan, peraturan-peraturan dan sarana yang baik. Sesuai yakni mengusahakan kekayaan alam, luas lahan dan kesuburan tanah dengan jenis usaha yang cocok dengan kondisi lingkungan dan sosial apakah untuk pertambangan, industri, dan pertanian. Seimbang jika usaha-usaha yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dan diperuntukan baik untuk pangan, perkebunan dan pertambangan serta pemukiman. Hal inilah yang tidak terlihat pada saat sekarang ini.

Namun yang terjadi saat ini, baik Pertanian tanaman pangan, perkebunan, pemukiman, industri dan pertambangan tidak tepat, sesuai dan seimbang.  Paradigma pertanian di daerah sekarang lebih mengarah kepada perkebunan yang notabenenya dipergunakan dan diperuntukan untuk industri dan pertambangan. Komoditas sektor perkebunan yang paling populer dan mendominasi adalah kelapa sawit dan karet, dimana-mana masyarakat mengusahakan kelapa sawit dan karet bahkan mereka rela mengalih fungsikan lahan produktif mereka untuk dikelola dan dimanfaatkan selain usaha tanaman pangan dan hortikultura.Hal ini dapat di lihat dari beberapa parameter yang ada, yaitu :

  1. Luas Lahan dan Sentra Produksi

Pada umumnya mayoritas penduduk mengusahakan pertanian perkebunan kelapa sawit dan karet (getah) yang 10 kali lipat luasnya dari pada luas lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Parahnya, hampir disetiap desa di Daerah tersebut mengembangkan komoditas kelapa sawit dan karet (getah). Sementara untuk komoditas tanaman pangan hanya terdapat diwilayah tertentu dengan luas lahan yang berbanding jauh. Begitu pula halnya dengan komoditas tanaman hortikultura hanya diusahakan sebagai tanaman perkarangan dan jumlah masyarakat yang mengusahakan juga sangat memprihatinkan

     2. Industri (pengolahan)

perkembangan komoditas tanaman kelapa sawit dan karet (getah) sangat banyak dan tersebar secara merata memiliki industri pengelolaan kelapa sawit sehingga prospek peningkatan kesejahteraan dapat tercapai dengan cepat selain itu, industri-industri pendukung lainnya seperti pupuk, benih, dan otomotif memberikan kemudahan bagi para petani kelapa sawit untuk memiliki produk-produk yang mereka hasilkan. Sementara, industri pendukung tanaman pangan dan hortikultura sangat langka ditemui, seperti Rice Milling Unit (RMU) dan Rice Milling Plant (RMP), industri makanan hanya ada 1-2 disetiap daerah dan itu tidak juga semua daerah ada.

     3. Modal

Sangat sulitnya memperoleh modal dalam pengembangan usaha pertanian tanaman pangan dan hortikulutra menjadi pemicu petani mengalihfungsikan lahan-lahan produktif mereka  untuk usaha tanaman perkebunan yang memang lebih mudah untuk mendapatkan modal usaha. Banyak cara untuk mendapatkan modal dalam usaha perkebunan kelapa sawit dan karet (getah) ini seperti dengan sistem bapak angkat. Kita punya lahan dan biaya pembangunan kebun kelapa sawit dan karet (getah)diserahkan kepada pihak pemberi modal yang pembayarannya melalui hasil dengan aturan-aturan yang telah ditentukan. Hal ini yang tidak terjadi pada sektor tanaman pangan dan hortikultura.

     4. Hasil (Keuntungan)

Usaha perkebunan kelapa sawit dan karet (getah) lebih menguntungkan baik dari segi harga, waktu, tenaga dan biaya dari pada usaha tanaman pangan dan hortikultura. Bagaimana tidak ? kelapa sawit dan karet hanya butuh perawatan minimal 3 tahun.  Setelah itu, hasil panen dapat diperoleh dalam jangka waktu dua minggu sekali atau 1-4 bulan sekali dan harganya juga relatif stabil, ini berbanding terbalik dengan jenis tanaman pangan dan hortikultura.

 

Masalahnya, jika paradigma pertanian holtikultura dan tanaman pangan masih tetap seperti ini dan berlangsung lama, apa yang akan kita makan? Buah sawit, CPO, Getah Karet atau pelepah sawit nya?

Dan ini lah yang menyebabkan daerah kita daerah yang tidak bisa mandiri (mandi sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, bangun sendiri dll) dan berkembang.

 

Penulis : Alexander Akbar, SP, M.Si

  • 18-08-2017 07:21 am

  • Oleh Admin

  • Dibaca 67 Kali


Komentari

Nama
Email
Komentar