Tradisi Ziarah Puyang Masyarakat Tanjung Raya SDT

Pagi itu masyarakat Tanjung Raya tengah berkumpul di rumah keturunan almarhum H Kodir, yang tengah kerepotan menyelenggarakan hajatan. Seekor kerbau berbadan besar langsung disembelih oleh pemegang adat dari garis keturunan laki-laki, yang disebut Meraje, Jenang Meraje dan Lebu Meraje. “ yang boleh menyembelih kerbau ini harus dari garis keturunan laki-laki. Tidak boleh dari garis keturunan perempuan. Kebetulan saya sendiri saat ini sebagai pemegang adat tunggu Tubang keturunan H Kodir dan Serimbang,” ujar Mashal.

Hingga terik matahari yang meninggi pertanda masuk waktu siang hari, daging kerbau yang sudah dipotong kemudian dimasak oleh keluarga secara gotong royong.  Dimana usai sholat dzuhur, akan dimakan bersama, atau bahasa adatnya makan nasi sekulak. “ Semua keluarga berkumpul, baik itu yang ada diluar kota, luar daerah, dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua maupun dari Aceh hingga Lampung. Bahkan dari luar negeri seperti Arab Saudi. Kebetulan ada keluarga kami yang tinggal di sana ( Arab Saudi, Red),” Jelasnya.

Selanjutnya tutur Marshal, sedekah ziarah puyang seperti ini sebagai ajang silahturahmi dengan sesama warga sekitar, sehingga dapat mempererat tali persaudaraan dari garis keturunan. “ Sedekah ini sebagai ajang kumpul-kumpul keluarga. Anaknya ada 7 orang, semua sokongan untuk acara tersebut. Ziarah ini dapat dilaksanakan kapan aja kalau sudah ada kata mufakat keluarga. Ataupun tergantung dari kemampuan anak cucunya,” imbuhnya.

Sementara itu, pada malam harinya, digelar pengajian bersama. Selain membaca surat yasin dan kirim doa kepada arwah anak cucu dari garis keturunan. Juga wajib membaca Al Quran 30 Juz oleh 30 orang. Lebih jauh lanjut Marshal, selain ajang silahturahmi keluarga besar, acara itu juga sangat penting guna memotivasi anak keturunannya yang telah tersebar di penjuru Nusantara, bahkan luar negeri. “ Anak keturunan almarhum H Kodir juga mampu bersaing di dunia kerja, soalnya ada berhasil menjadi Mualim/Ustadz dan Ustadzah, Dosen, Tentara, Polisi, Pengacara, Hakim, Jaksa, Bidan, Perawat, PNS, Wartawan, Pengusaha, Pedagang, dan Petani dari berbagai daerah perantauannya masing-masing,” tandasnya.

Sementara, Sekretaris Daerah Muara Enim, Ir H Hasanudin Msi, sebagai Pemegang Lebu Meraje di rumah Tunggu Tubang tersebut mengatakan, bahwa sekitar sebulan yang lalu Marshal dan Khairlani dating ke kantor Pemkab, meminta untuk menghadiri silahturahmi ziarah puyang. “ Sebelumnya saya tidak tahu, hanya saya diberi silsilahnya keturunan puyang. Sementara saya hanya mengenal kakekku jeme Semende asli. Sedangkan yang lainnya belum tahu. Namun Alhamdulillah dengan pertemuan ini saya dapat mengetahui bahwa anak keturunan puyang ini sudah banyak, diperkirakan 20 jutaan Nusantara. Selama ini orang mengenal saya orang lahat. Namun harus saya akui bahwa mengalir darah Semende di dalam diriku, ungkap Sekda Pemkab. Muara Enim Ir. H Hasanudin Msi.

  • 05-11-2015 11:36 am

  • Oleh Admin

  • Dibaca 1257 Kali


Komentari

Nama
Email
Komentar